CEO Tesla Elon Musk mendarat di Beijing pada Minggu (28/4) untuk bertemu dengan Perdana Menteri China Li Qiang guna membahas peluncuran teknologi Full Self-Driving (FSD). Kunjungan mendadak ini dilakukan di tengah upaya Tesla memperluas fitur kemudi otomatis di pasar otomotif terbesar di dunia tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Li Qiang menyebut perkembangan Tesla sebagai contoh sukses kerja sama ekonomi antara Amerika Serikat dan China. Tesla dilaporkan telah mencapai kesepakatan dengan raksasa teknologi Baidu untuk menggunakan lisensi pemetaan mereka guna mengaktifkan fungsi navigasi tingkat lajur pada perangkat lunak FSD.
Selain masalah pemetaan, Tesla juga berhasil melewati persyaratan keamanan data nasional yang ditetapkan oleh Asosiasi Produsen Mobil China (CAAM). Model 3 dan Model Y yang diproduksi di pabrik Shanghai kini dinyatakan memenuhi standar privasi data, sebuah langkah krusial untuk mendapatkan izin operasional penuh.
Musk saat ini sedang mengupayakan persetujuan dari otoritas China untuk mentransfer data kendaraan yang dikumpulkan di dalam negeri ke luar negeri. Data tersebut sangat dibutuhkan untuk melatih algoritma kecerdasan buatan Tesla di pusat data mereka yang berada di Amerika Serikat guna meningkatkan akurasi sistem otonom.
Saham Tesla melonjak lebih dari 12 persen pada perdagangan Senin menyusul berita kemajuan regulasi di China ini. Investor menyambut positif potensi pendapatan baru dari langganan perangkat lunak FSD di tengah persaingan ketat dengan produsen mobil listrik lokal seperti Xpeng dan BYD.
Meskipun teknologi FSD saat ini masih memerlukan pengawasan pengemudi secara aktif, peluncurannya di China dianggap sebagai tonggak sejarah penting bagi industri otomotif. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat adopsi kendaraan otonom secara global dan memperkuat posisi Tesla dalam perlombaan teknologi kecerdasan buatan.