Amerika Serikat mengerahkan tiga kapal induk bertenaga nuklir, yakni USS Gerald R. Ford, USS Abraham Lincoln, dan USS George H.W. Bush, untuk mengepung perairan Iran hingga Selasa, 28 April 2026. Langkah ini diambil guna memperkuat blokade total terhadap seluruh pelabuhan utama Iran dan mengamankan jalur distribusi energi di Selat Hormuz yang saat ini lumpuh akibat konflik bersenjata.
Panglima militer AS, Dan Caine, menyatakan bahwa United States Central Command akan memastikan tidak ada kapal yang melintas tanpa izin Angkatan Laut AS di kawasan strategis tersebut. Kebijakan ini memicu ketegangan diplomatik baru setelah Presiden Donald Trump membatalkan pengiriman utusan ke Islamabad, Pakistan, karena menilai tawaran damai dari Teheran tidak memadai bagi kepentingan Washington.
Di medan tempur lain, Israel melancarkan serangan udara intensif ke wilayah Lebanon selatan yang menewaskan jurnalis harian Al Akhbar, Amal Khalil, di wilayah al-Tayri pada pekan ini. Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam keras insiden tersebut sebagai kejahatan kemanusiaan, sementara militer Israel berdalih operasi tersebut menargetkan infrastruktur kelompok Hizbullah yang dituding mengganggu stabilitas kawasan.
Guncangan ekonomi global turut membayangi konflik ini setelah Uni Emirat Arab secara mengejutkan mengumumkan pengunduran diri dari organisasi OPEC setelah hampir 60 tahun bergabung. Keputusan ini memicu fluktuasi tajam pada harga minyak mentah dunia, mengingat posisi strategis kawasan Teluk dalam rantai pasok energi internasional yang kini terganggu oleh blokade maritim berkepanjangan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan deeskalasi segera dan memperingatkan bahwa dunia berada di ambang perang yang lebih luas dengan dampak dramatis bagi stabilitas global. Hingga akhir April 2026, lebih dari 1.340 orang dilaporkan tewas sejak serangan gabungan dimulai pada Februari lalu, sementara ribuan pelaut masih terjebak di perairan Selat Hormuz akibat kebuntuan militer.